Rabu, 21 Oktober 2015

Ketika Masjid dan Gereja di Solo Saling Rukun Berdampingan


Indahnya Perdamaian dalam Perbedaan di Solo.

 Solo kota batik yang dikenal sebagai kota yang ramah, bersih dan tenang. Selalu saja ada ada alasan untuk kembali ke kota ini, baik karena mengunjungi keluarga dan kerabat, kangen suasana kotanya, rindu kelezatan sajian kulinernya, serta keramahan orang-orangnya.

Di kampung halamanku ini terdapat sebuah gereja dan masjid berdiri kokoh berdampingan dalam satu halaman. Keduanya adalah Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah yang letaknya saling berdampingan berbagi tembok bahkan memiliki alamat yang sama. Satu-satunya pemisah bangunan tersebut hanya tugu lilin tua setinggi satu meter yang merupakan simbol perdamaian kerukunan umat beragama. Tugu ini menyimbolkan untuk sepakat hidup berdampingan dengan selalu menjaga toleransi satu sama lain yang telah merasuk pada kehidupan masyarakat setempat. Lokasi Masjid dan Gereja ini di Jalan Gatot Subroto, Kota Surakarta - Indonesia.

Seorang Jemaah Umat Islam Berdiri di Depan Spanduk Ucapan Selamat Idul Fitri di Gereja Joyodiningratan


Di pagar gereja tampak sebuah spanduk dari Jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan yang mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri ketika kakiku beranjak menuju Masjid Al-Hikmah untuk sholat Ied. Sama halnya ketika Umat Kristiani hendak merayakan natal para Jemaah umat muslimpun memberikan ucapan selamat natal untuk jemaat GKJ Joyodiningratan.

Tidak hanya ucapan, masyarakat disini juga nyata dalam tindakan seperti ketika persiapan hari raya idul fitri ini warga non muslimpun turut membantu dalam persiapannya. Begitu juga halnya ketika jemaat GKJ Joyodiningratan hendak merayakan hari natal giliran umat muslim yang membantu mengamankan jalannya perayaan. Masyarakat disini sudah terbiasa saling gotong royong dan bahu membahu saling tolong menolong dalam kehidupan bermasyarakat.
GKJ Joyodiningratan & Masjid Alhikmah yang berdiri berdampingan
 Setiap kali menyaksikan masjid dan gereja yang berdampingan ini, aku selalu membayangkan sungguh indahnya jika Indonesia yang memiliki keragaman budaya dan keyakinan dapat hidup saling berdampingan seperti ini. Rasanya tempat ini bisa menjadi contoh dan panutan agar kita dapat hidup berdampingan walau hidup dalam perbedaan. Para jamaah pada kedua tempat ibadah ini merasa bangga bisa hidup bersama walau dengan keyakinan berbeda.
Suasana Silahturahmi di Masjid Alhikmah, Surakarta - Indonesia
Miris rasanya jika kita melihat surat kabar ataupun televisi yang memberitakan tentang konflik antar golongan atau agama akibat oknum yang merasa paling benar akan keyakinannya. Golongan tersebut  lebih terlihat arogan dan emosional dalam menghadapi setiap perbedaan yang mereka yakini. Mungkin mereka lupa bahwa negara ini berasaskan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti walau kita berbeda tetapi tetap satu kesatuan. Negeri ini diberkahi keindahan alam dan keramahan senyum penduduknya dengan segala keragaman suku, agama dan kebudayaan.

Dengan tinggal dilingkungan masyarakat dan anggota keluarga yang juga memiliki perbedaan keyakinan membuat aku lebih bertoleransi akan perbedaan. Kuncinya yaitu komunikasi dan saling terbuka satu sama lain yang membuat kita dapat saling mengerti satu sama lain, saling toleransi serta saling menghargai. Sungguh indahkan hidup dalam perbedaan? Jika Kota Solo bisa, Indonesia juga pasti bisa, Kita semua pasti bisa.

Oleh : Florentina Desnafira Vatsyalinka (15.E1.0096)
Dosen Pembimbing : Gregorius Daru Wijoyoko

Katolik, Islam kerja sama bangun jalan

03/09/2010
Katolik, Islam kerja sama bangun jalan thumbnail
Haji Suparno (memakai peci)
Umat Katolik di Magelang, Jawa Tengah, menyisihkan sebagian dari Dana APP tahun ini guna membantu pengerasan jalan setapak sepanjang 600 meter di dusun yang dihuni umat Muslim.
Paroki St. Ignatius dan Vikariat Kedu memberi dana dengan total 4 juta rupiah untuk pengerasan lorong di Kembangsari, kabupaten Windusari. Pengerjaannya rampung akhir bulan lalu.
“Kami tidak hanya menolong orang Katolik, tapi juga orang non-Katolik. Solidaritas itu tidak mengenal batas,” kata Kefas Joko Wahyono, pengelola Dana APP.
“Kami hanya ingin membantu keluarga-keluarga yang ada, tanpa ada agenda untuk kristenisasi” katanya kepada ucanews.com pada Kamis, 2 September.
“Semoga saja kampung ini menjadi barometer kehidupan yang harmonis,” kata Rohani, 44, seorang warga Muslim yang tinggal di pemukiman tersebut.
Ada 63 keluarga Muslim dan satu keluarga Katolik tinggal di kampung ini dan mereka saling menghargai, tanpa memandang latarbelakang agama, lanjut Rohani.
Demikian pula dengan Haji Suparno. Pria berusia 70 tahun ini juga menyambut baik bantuan yang diberikan umat Katolik.
“Indonesia adalah negara berazaskan Pancasila. Pembangunan bangsa ini adalah tanggung jawab semua orang, tidak peduli latar belakang agama atau suku,” katanya.
Suparno percaya, bantuan umat Katolik tersebut semata-mata aksi solidaritas.
“Bantuan ini tulus. Kerja sama di tingkat akar rumput seperti ini sangat dibutuhkan,” lanjut Suparno.
Beberapa keluarga Muslim awalnya mengira apa yang mereka lakukan itu bertujuan untuk mengajak warga setempat masuk Kristen.
“Namun saya menjelaskan kepada mereka bahwa Gereja hanya ingin membantu, tidak lebih dari itu. Mereka pun segera paham,” kata Petrus Cristianus Sudirman, dari satu-satunya keluarga Katolik di lingkungan tersebut.
Johanes Sutanto,ucanews.com Kembangsari

Oleh : Florentina Desnafira Vatsyalinka (15.E1.0096)
Dosen Pembimbing : Gregorius Daru Wijoko
Imanku Mendamaikan Dunia
Menuju Religiositas Sejati

Tidak mudah memang menunjukan religiositas sebagai kesanggupan setiap manusia menyadari apa yang dibalik dan di dalam pengalaman-pengalaman manusiawi. Pengalaman akan dunia pengalaman akan Allah adalah dua hal yang berbeda. Allah bukan bagian dari dunia ini. Allah melampaui apapun yang dialami manusia (transenden). Namun dipihak lain Allah menopang apapun yang ada dan juga apa yang sedang berlangsung dalam ciptaanNya (imanensi). Dengan begitu manusia sebagai makhluk rohani dapat melampaui yang kongret serta kategorial dan menyadari dibaliknya yaitu transendental. Terdapat banyak hal yang menghambat transendental, anatara lain : manusia terlalu terikat apa yang dilihat dan diraba , mengejar rasa aman dan menimbun barang berharga, bersikap angkuh dan gila hormat, ingin mengikuti keinginan sendiri, ingin dipuji karena sukses, ingin dilayani, ingin menonjol dan menang terus, memanjakan diri, bertengkar, berselisih dan membalas dendam, menipu, cemas dan khawatir, keras kepala dan gegabah. Singkatnya mentalitas materialistis, praktis dan dosa menghambat kepekaan manusia akan yang ilahi
Untuk mampu memiliki religiositas , pengalaman keagamaan, manusia harus mengalami hidup sebagai suatu problem, sebagai pertanyaan yang menuntut jawaban. Manusia yang hanya bekerja mencari kemansyuran dan menikmati hidup tanpa mempersoalkan eksistensi hidup, orang tersebut sulit menemukan pengalaman keagamaan. Dengan mengembangkan secara optimal daya, akal budi, cinta, belas kasih dan keberanian, manusia dapat mengalami dunia sebagai bagian dari hidup rohani. Selama manusia masih memperalat sesamanya dan tidak menjadikan manusia sebagi tujuan dalam dirinya sendiri, orang tersebut sukar sekali peka dalam pengalaman kegamaan. Manusia harus melepaskan ego dan melepaskan ketakutan agar mampu mengosongkan diri dan memiliki keterbukaan hati pada yang ilahi.

Oleh : Florentina Desnafira Vatsyalinka (15.E1.0096)
Dosen Pembimbing : Gregorius Daru Wijoyoko