Imanku Mendamaikan Dunia
Tidak mudah memang menunjukan religiositas sebagai kesanggupan setiap manusia menyadari apa yang dibalik dan di dalam pengalaman-pengalaman manusiawi. Pengalaman akan dunia pengalaman akan Allah adalah dua hal yang berbeda. Allah bukan bagian dari dunia ini. Allah melampaui apapun yang dialami manusia (transenden). Namun dipihak lain Allah menopang apapun yang ada dan juga apa yang sedang berlangsung dalam ciptaanNya (imanensi). Dengan begitu manusia sebagai makhluk rohani dapat melampaui yang kongret serta kategorial dan menyadari dibaliknya yaitu transendental. Terdapat banyak hal yang menghambat transendental, anatara lain : manusia terlalu terikat apa yang dilihat dan diraba , mengejar rasa aman dan menimbun barang berharga, bersikap angkuh dan gila hormat, ingin mengikuti keinginan sendiri, ingin dipuji karena sukses, ingin dilayani, ingin menonjol dan menang terus, memanjakan diri, bertengkar, berselisih dan membalas dendam, menipu, cemas dan khawatir, keras kepala dan gegabah. Singkatnya mentalitas materialistis, praktis dan dosa menghambat kepekaan manusia akan yang ilahi
Untuk mampu memiliki religiositas , pengalaman keagamaan, manusia harus mengalami hidup sebagai suatu problem, sebagai pertanyaan yang menuntut jawaban. Manusia yang hanya bekerja mencari kemansyuran dan menikmati hidup tanpa mempersoalkan eksistensi hidup, orang tersebut sulit menemukan pengalaman keagamaan. Dengan mengembangkan secara optimal daya, akal budi, cinta, belas kasih dan keberanian, manusia dapat mengalami dunia sebagai bagian dari hidup rohani. Selama manusia masih memperalat sesamanya dan tidak menjadikan manusia sebagi tujuan dalam dirinya sendiri, orang tersebut sukar sekali peka dalam pengalaman kegamaan. Manusia harus melepaskan ego dan melepaskan ketakutan agar mampu mengosongkan diri dan memiliki keterbukaan hati pada yang ilahi.
Oleh : Florentina Desnafira Vatsyalinka (15.E1.0096)
Dosen Pembimbing : Gregorius Daru Wijoyoko
Oleh : Florentina Desnafira Vatsyalinka (15.E1.0096)
Dosen Pembimbing : Gregorius Daru Wijoyoko

Setujuu, jaman sekaranv udh saatnya dewasa dan terbuka dengan perbedaan. Thank you yaaa
BalasHapusSebagai umat beragama sudah selayaknya untuk menjaga persatuan. Karena pada dasarnya kita percaya pada satu Tuhan
BalasHapusSebagai umat beragama sudah selayaknya untuk menjaga persatuan. Karena pada dasarnya kita percaya pada satu Tuhan
BalasHapusTeruslah berkarya dan menjadi inspirasi banyak orang fira. God Bless :)
BalasHapusTerimakasih atas artikel ini sangat memberkati saya.
BalasHapusnice article. sangat menginspirasi. god bless u fira :)
BalasHapusGood :D
BalasHapusSemakin majunya perkembangan jaman, maka seharusnya semakin pandai kita untuk menghargai perbedaan yg itu akan menjadi alat untuk saling melengkapi
BalasHapusFira! Tulisan yg bgs.
BalasHapustrs berkarya ya.
God Bless You. :)
kita memang seharusnya saling menghargai perbedaan. perbedaan bukan menjadikan halangan buat kita menjalin persaudaraan kepada sesama. Nice artikel! Godbless
BalasHapussaya sangat bersependapat sama dengan artikel anda, dimana memang kenyataannya, agama bukan sutu momok untuk menghalangi tali persaudaraan, namun sebagai alat terbentuknya hubungan kekeluargaan
BalasHapusI agree
BalasHapusKedamaianlah yg kita inginkan maka jika ingin di hargai coba menghargai orang dahulu
Thats good
artikel yang menarik dan bermanfaat ;)
BalasHapusTerimakasih atas komentar dan masukannya rekan rekan smua. Salam damai dalam perbedaan
BalasHapuspost anda sangat bagus dan menginspirasi. terus berkayarya. gbu;)
BalasHapus