Rabu, 21 Oktober 2015

Imanku Mendamaikan Dunia
Menuju Religiositas Sejati

Tidak mudah memang menunjukan religiositas sebagai kesanggupan setiap manusia menyadari apa yang dibalik dan di dalam pengalaman-pengalaman manusiawi. Pengalaman akan dunia pengalaman akan Allah adalah dua hal yang berbeda. Allah bukan bagian dari dunia ini. Allah melampaui apapun yang dialami manusia (transenden). Namun dipihak lain Allah menopang apapun yang ada dan juga apa yang sedang berlangsung dalam ciptaanNya (imanensi). Dengan begitu manusia sebagai makhluk rohani dapat melampaui yang kongret serta kategorial dan menyadari dibaliknya yaitu transendental. Terdapat banyak hal yang menghambat transendental, anatara lain : manusia terlalu terikat apa yang dilihat dan diraba , mengejar rasa aman dan menimbun barang berharga, bersikap angkuh dan gila hormat, ingin mengikuti keinginan sendiri, ingin dipuji karena sukses, ingin dilayani, ingin menonjol dan menang terus, memanjakan diri, bertengkar, berselisih dan membalas dendam, menipu, cemas dan khawatir, keras kepala dan gegabah. Singkatnya mentalitas materialistis, praktis dan dosa menghambat kepekaan manusia akan yang ilahi
Untuk mampu memiliki religiositas , pengalaman keagamaan, manusia harus mengalami hidup sebagai suatu problem, sebagai pertanyaan yang menuntut jawaban. Manusia yang hanya bekerja mencari kemansyuran dan menikmati hidup tanpa mempersoalkan eksistensi hidup, orang tersebut sulit menemukan pengalaman keagamaan. Dengan mengembangkan secara optimal daya, akal budi, cinta, belas kasih dan keberanian, manusia dapat mengalami dunia sebagai bagian dari hidup rohani. Selama manusia masih memperalat sesamanya dan tidak menjadikan manusia sebagi tujuan dalam dirinya sendiri, orang tersebut sukar sekali peka dalam pengalaman kegamaan. Manusia harus melepaskan ego dan melepaskan ketakutan agar mampu mengosongkan diri dan memiliki keterbukaan hati pada yang ilahi.

Oleh : Florentina Desnafira Vatsyalinka (15.E1.0096)
Dosen Pembimbing : Gregorius Daru Wijoyoko
          

15 komentar:

  1. Setujuu, jaman sekaranv udh saatnya dewasa dan terbuka dengan perbedaan. Thank you yaaa

    BalasHapus
  2. Sebagai umat beragama sudah selayaknya untuk menjaga persatuan. Karena pada dasarnya kita percaya pada satu Tuhan

    BalasHapus
  3. Sebagai umat beragama sudah selayaknya untuk menjaga persatuan. Karena pada dasarnya kita percaya pada satu Tuhan

    BalasHapus
  4. Teruslah berkarya dan menjadi inspirasi banyak orang fira. God Bless :)

    BalasHapus
  5. Terimakasih atas artikel ini sangat memberkati saya.

    BalasHapus
  6. nice article. sangat menginspirasi. god bless u fira :)

    BalasHapus
  7. Semakin majunya perkembangan jaman, maka seharusnya semakin pandai kita untuk menghargai perbedaan yg itu akan menjadi alat untuk saling melengkapi

    BalasHapus
  8. Fira! Tulisan yg bgs.
    trs berkarya ya.
    God Bless You. :)

    BalasHapus
  9. kita memang seharusnya saling menghargai perbedaan. perbedaan bukan menjadikan halangan buat kita menjalin persaudaraan kepada sesama. Nice artikel! Godbless

    BalasHapus
  10. saya sangat bersependapat sama dengan artikel anda, dimana memang kenyataannya, agama bukan sutu momok untuk menghalangi tali persaudaraan, namun sebagai alat terbentuknya hubungan kekeluargaan

    BalasHapus
  11. I agree
    Kedamaianlah yg kita inginkan maka jika ingin di hargai coba menghargai orang dahulu
    Thats good

    BalasHapus
  12. Terimakasih atas komentar dan masukannya rekan rekan smua. Salam damai dalam perbedaan

    BalasHapus
  13. post anda sangat bagus dan menginspirasi. terus berkayarya. gbu;)

    BalasHapus